Senin, 06 Desember 2010

Pembangkit Listrik Tenaga Air ( PLTA )













            

            Air sungai merupakan salah satu potensi yang cukup besar untuk dapat membangkitkan tenaga listrik. Potensi tenaga air yang terdapat di seluruh Indonesia diperkirakan dapat memproduksi listrik sebesar 75 GW, namun adanya perbedaan antara potensi tenaga air dengan kebutuhan akan tenaga listrik menyebabkan pemanfaatan potensi tenaga air belum dapat dilakukan secara optimal. Sub UBP PLTA PB Soedirman merupakan penghasil tenaga listrik terbesar yang berada di bawah UBP Mrica yang menggunakan waduk sebagai sarana penampung air.
           
           Aliran sungai dengan jumlah debit air yang demikian besar ditampung dalam waduk (1) yang ditunjang dengan bangunan bendungan (3). Air tersebut dialirkan melalui saringan Power Intake (2) kemudian masuk ke Pipa Pesat (Penstock) (4) untuk merubah energi potensial menjadi energi kinetik. Pada ujung pipa pesat dipasang Katup Utama (Main Inlet Valve) (5) untuk mengalirkan air ke turbin. Katup utama akan ditutup otomatis apabila terjadi gangguan atau di stop atau dilakukan perbaikan/pemeliharaan turbin.
Air yang telah mempunyai tekanan dan kecepatan tinggi (energi kinetik) dirubah menjadi energi mekanik dengan dialirkan melalui sirip-sirip pengarah (sudu tetap) akan mendorong sudu jalan/runner yang terpasang pada turbin (6). Energi putar yang diterima oleh turbin selanjutnya digunakan untuk menggerakkan generator (7) yang kemudian menghasilkan tenaga listrik. Air yang keluar dari turbin melalui Tail Race (8) selanjutnya kembali ke sungai (9). Tenaga listrik yang dihasilkan oleh generator, tegangannya masih rendah (13,8 kV). Oleh karena itu, tegangan tersebut terlebih dahulu dinaikkan dengan Trafo Utama (10) menjadi 154 kV untuk efisiensi penyaluran energi dari pembangkit ke pusat beban. Tegangan tinggi tersebut kemudian diatur/dibagi di Switch Yard 150 kV Gardu Induk Mrica (11) dan selanjutnya disalurkan/interkoneksi ke sistem tenaga listrik Jawa-Bali melalui kawat saluran Tegangan Tinggi 150 kV (12). Disamping itu waduk PB Soedirman dengan sungai Serayunya yang mempunyai karakteristik khusus, apabila terjadi banjir maka kelebihan air tersebut akan dibuang melalui pintu pelimpas otomatis (spillway) (13).

           Waduk Mrica Banjarnegara merupakan perairan lentik yang ada di wilayah Kabupaten Banjarnegara. Waduk Mrica bila ditinjau dari peranan utamanya yaitu, sebagai sumber pembangkit tenaga air (PLTA). Peranan lain Waduk Mrica yaitu, sebagai pariwisata air, irigasi dan budidaya ikan air tawar. Selain ikan organisme yang hidup di perairan Waduk Mrica salah satunya adalah plankton. Plankton mempunyai peranan penting sebagai penyedia nutrisi alami bagi ikan. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui distribusi plankton di perairan Waduk Mrica Banjarnegara. Penelitian ini dilakukan di perairan Waduk Mrica Banjarnegara pada bulan Agustus 2005. Populasi dalam penelitian ini adalah semua jenis plankton yang terdapat di perairan Waduk Mrica Banjarnegara. Sampel dalam penelitian ini adalah semua jenis plankton yang tertangkap dengan plankton net no.25 di tiga stasiun pengamatan yaitu, pada zona usaha, zona bebas dan zona wisata. Tehnik sampling yang digunakan adalah purposive sampling. Pada masing-masing bagian diambil secara komposit dari 5 titik yang berbeda. Variabel utama dalam penelitian ini adalah distribusi plankton secara horizontal yang terdapat di perairan Waduk Mrica Banjarnegara. Variabel pendukung adalah kualitas air Waduk Mrica Banjarnegara yang diukur langsung di tempat penelitian yaitu, suhu, kecerahan, pH, Oksigen terlarut dan Karbondioksida terlarut. Hasil penelitian di perairan Waduk Mrica Banjarnegara ditemukan31 jenis plankton terdiri dari 11 fitoplankton dan 20 zooplankton, jenis plankton yang ditemukan di perairan Waduk Mrica terdiri dari divisio Chlorophyta, Chrysophyta, Protozoa, Rotifera dan Crustacea. Hasil perhitungan nilai indeks keanekaragaman jenis, keseragaman plankton dan dominansi plankton secara horizontal di perairan Waduk Mrica Banjarnegara menunjukkan bahwa kelimpahan plankton tertinggi pada zona wisata pada pengambilan sore hari dan diikuti oleh zona bebas dan zona usaha, keseragaman plankton dan dominansi plankton tertinggi pada zona usaha diikuti zona bebas dan zona wisata. Parameter faktor abiotik di perairan Waduk Mrica yaitu, suhu berkisar antara 28-31oC, pH 6-8, kecerahan 45-60 cm, oksigen terlarut 6,8-8 ppm dan karbondioksida terlarut 0,8-1,5 mg/l. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa distribusi plankton secara horizontal di perairan Waduk Mrica Banjarnegara tersebar merata. Saran yang dapat disampaikan perlu kirannya diadakan penelitian pada waktu yang berbeda dan perlu adanya pemantauan kualitas air secara berkala.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar